jam berapa ya???

Sabtu, 13 Desember 2014

SANG PENARI

SANG PENARI

Hai guys, ketemu lagi bareng gue, udah lama banget nih nggak nge post di blog. Maklumlah udah kelas 12 aja, tugas bejibun dan repot sama ini itu, bikin gue nggak sempet online dan ngebuka blog gue. Nah, di kesempatan yang langka, mumpung lagi nganggur abis uas, gue mau nulis review tentang salah satu film terbaik karya anak bangsa. Yup, bener banget! Elo semua pasti nggak asing dong dengan film "Sang Penari"? Bener banget! Gue baru nonton ini film kemaren (yah, telat banget). Dan gila, awalnya gue ngira ini film bakal standar-standar aja. But, setelah diliat, behhh perkiraan gue salah total! Ini film keren gilaaa! Mau tau alasannya? Gue kasih tau ya...

Sang Penari adalah sebuah film karya sutradara muda Ifa Isfansyah, film ini terinspirasi dari novel "Ronggeng Dukuh Paruk" karya Ahmad Tohari. Gue sih baru baca trilogi pertama dari novel ini. Film ini menceritakan tentang kisah cinta tragis antara seorang pemuda desa bernama Rasus (Oka Antara), dengan ronggeng bernama Srintil (Prisia Nasution). Kehidupan mereka diwarnai dengan kemiskinan yang merajalela di tahun 1965, masih gencar-gencarnya PKI tuh. Hingga akhirnya, kakek Srintil, Sakarya (Landung Simatupang) mengira bahwa Srintil kemasukan Indang, roh yang dipercayai di dunia peronggengan. Ia mengadukan masalah itu pada Kertareja (Slamet Rahardjo) yang merupakan dukun ronggeng. Hingga akhirnya, Srintil dipilih menjadi ronggeng. Rasus, yang diam-diam mencintai Srintil, tidak setuju jika Srintil menjadi ronggeng. Karena menjadi ronggeng berarti menjadi milik semua orang.

Menjadi ronggeng juga harus menjalani ritual bukak klambu, yaitu sebuah ritual yang menjual keperawanan ronggeng kepada orang yang mampu membayar dengan harga tinggi. Namun rupanya, Srintil juga memiliki rasa yang sama pada Rasus, hingga ia menjalani hubungan seks dengan Rasus untuk pertama kalinya di kandang kambing. Namun, setelah kejadian itu, Rasus lebih memilih meninggalkan Dukuh Paruk dan menjadi tentara.

Singkat cerita, seorang aktivis PKI bernama Bakar (Lukman Sardi), datang ke Dukuh Paruk, untuk mengajak warga Dukuh Paruk bergabung dengan PKI. Karena warga Dukuh Paruk buta huruf dan miskin, mereka tidak tau rencana jahat Bakar yang ingin memanfaatkan mereka. Hingga akhirnya, Dukuh Paruk dituduh terlibat dalam PKI, seluruh warga Dukuh Paruk ditangkap, termasuk Srintil. Rasus diminta untuk mencari Srintil oleh Sakung (Hendro Djarot). Rasus berhasil menemukan Srintil, namun Srintil terlanjur dipindahkan dari tahanan menuju daerah lain, (wahh.... sayang banget). Akhirnya nggantung banget....


Di adegan akhir, gue hampir mewek pas liat Rasus ketemu Srintil di Pasar Dawuan 10 tahun setelah tragedi merah PKI. Enggak tau gimana caranya Srintil bisa selamat dari tragedi itu. Yang jelas, waktu menari di Pasar Dawuan, Srintil menari dengan bahagia, seolah dia telah melepas semua kenangan menyakitkan selama jadi ronggeng. Bersama dengan Sakung, si pengendang yang loyal banget sama Srintil, mereka bertahan hidup dengan menari ronggeng. Rasus, yang kebetulan lewat dan melihat Srintil langsung menahannya dan memberikan keris yang dulu pernah dipakai Srintil.


Dari cerita di atas, penggambaran film sama novelnya agak beda, terutama cerita. Kalo di novel, kejadian tempe bongkrek terjadi waktu Srintil masih bayi. Kalo di film, Srintil udah berumur sekitar 10 tahunan. Terus sersan yang merekrut Rasus jadi tentara kalo di novel adalah orang Jawa, tapi kalo di film orang Batak.
Buat gue nggak masalah, yang penting imajinasi gue tentang Dukuh Paruk. Bayangan gue tentang Dukuh Paruk adalah kampung yang miskin dan kekeringan. Di Sang Penari digambarkan dengan apik, sehingga kita bisa kebawa suasana tahun 1965.

Selain itu, akting para pemain juga patut diacungi jempol. Terutama pemeran Rasus dan Srintil, yaitu Oka Antara dan Prisia Nasution. Keduanya bisa menjiwai karakter yang dibawakannya. Sehingga mampu membawa penonton ke dalam kisah cinta mereka. Chemistry yang dibangun juga cukup kuat. Begitu pula dengan pemain pendukung lainnya yang turut bermain dengan baik.

Film Sang Penari berhasil berbagai penghargaan bergengsi di ajang FFI 2011, sebagai film terbaik, aktor terbaik, aktris terbaik, sutradara terbaik, dan masih banyak lagi. Bahkan, film ini juga dikirim untuk mengikuti ajang festival film Academy Award.

Well, semoga akan ada film dengan kualias sebagus Sang Penari ya guys. Kalo bukan kita, siapa lagi yang mau menghargai perfilman Indonesia?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar